Perang telah tiba
Dan kematian telah dekat
Kusiapkan baju zirahku
Kuasah pedangku
Kupasang pelana
Dan kusulut api,
Sang pembawa kehidupan dan kematian
Yang panas membara
Untuk melawan musuh
Di tanah penuh debu
Kubawa teriakan perang
Dan kudengar deburan gendang
Menandakan telah dimulai nya pengadilan terakhir
Antara hidup dan mati
Kuhunus pedangku
Kutebas musuhku
Di tengah sengatan matahari yang menusuk
Di tengah kobaran api yang membakar kulitku
Bagai neraka yang panas tak terbendung
Kulawan musuh
Di tanah penuh debu
Kurasakan pahitnya aura membunuh
Kuhirup bau darah yang menyengat
Seakan tak kenal ampun,
Kulihat pedang-pedang saling menebas
Dan melawan musuh
Di tanah penuh debu
Yang sekarang berlumuran darah
Dengan peluh bercucuran
Dan tubuh penuh sayatan
Kukirim arwah-arwah terakhir ke alam sana
Dari yang muda hingga tua
Dari yang berpengalaman maupun tidak
Akhirnya,
Dengan baju zirah yang t'lah koyak
Dan pedang merah di tangan
Kuserukan teriakan kemenangan
Bagai lolongan serigala di malam purnama
Akhirnya,
Kukalahkan musuh
Di tanah penuh debu
-Naytica-
No comments:
Post a Comment